PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN PANTUN
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
DALAM PEMBELAJARAN BERPIDATO
(Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas IX C SMPN 2 Cipeundeuy
Kabupaten
Bandung Barat Tahun Pelajaran 2012/2013)
A.
PENDAHULUAN
Bahasa Indonesia merupakan alat
komunikasi yang mampu menyatukan bangsa Indonesia yang beraneka ragam suku
bangsa. Dengan menggunakan bahasa Indonesialah penduduk Indonesia yang berbeda
adat dan budayanya mampu berkomunikasi, sehingga bahasa Indonesia akhirnya
dipelajari di sekolah dan menjadi salah satu pelajaran terpenting dari sekian
banyak pelajaran yang diberikan.
Pada pelaksanaannya, di dalam
kelas Bahasa Indonesia diajarkan dalam dua aspek, yaitu kebahasaan dan
kesusasteraan. Pada tataran kebahasaan guru lebih banyak yang mampu jika
dibandingkan dengan kesusasteraan, sehingga dengan dasar ketidakmampuan itulah
akhirnya guru merasa lebih sering bermasalah dalam mengajarkan sastra daripada
kebahasaan. Padahal jika ditekuni dengan ikhlas, lambat laun ketidakmampuan
tersebut apabila ulet menggelutinya akan berubah menjadi mampu.
1. Latar Belakang
Masalah
Hasil belajar merupakan hal yang
penting dalam pembelajaraan, baik itu hasil yang dapat diukur secara langsung
dengan angka maupun hasil belajar yang dapat dilihat pada penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari. Salah satu ciri ketidakberhasilan pembelajaran ditandai
oleh siswa yang
cenderung hanya menghafal tetapi
tidak memahami esensi makna materi, bahkan tidak
mengetahui aplikasi tentang materi pembelajaran yang telah diperolehnya ke dalam dunia nyata. Namun biasanya yang lebih mudah dikenali adalah
perolehan nilai siswa pada tes formatif.
Banyak faktor penyebab
ketidakberhasilan sebuah pembelajaran. Mungkin saja siswa yang kurang motivasi
belajarnya, atau guru yang tidak mampu menciptakan pembelajaran yang memfasilitasi
belajar siswa sehingga memiliki motivasi belajar yang tinggi atau mungkin saja
karena sarana yang dimiliki tidak memadai. Namun semua faktor tersebut
sebenarnya akan mampu diatasi bila guru lebih kreatif. Guru memiliki tanggung
jawab yang cukup berat seperti yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah nomor
19 tahun 2005 pasal 19 ayat 1
tentang standar nasional pendidikan (SNP).
“Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik.”
Melalui pengamatan di lapangan,
materi semudah apa pun akan tidak bermakna bagi siswa jika tidak
disampaikan dengan menggunakan model atau metode yang tidak tepat. Dalam hal ini mengandung makna tersirat
bahwa sebuah pembelajaran akan berhasil jika guru dapat menyiasati semua hal
yang menyangkut pembelajaran karena seperti kata pepatah, bahasa ituala bisa
karena biasa. Hal itu mengandung makna bahwa sesulit apapun akan bisa dikuasai
jika terus menerus dilatih. Bukankan bahasa itu adalah keterampilan?
Bahasa
memiliki empat keterampilan, yaitu membaca, menyimak, berbicara, dan menulis.
Semuanya memiliki kesulitan tersendiri bagi orang-orang tertentu. Oleh karena
itu guru hendaknya teliti pada saat pembelajaran berlangsung karena mungkin
saja terdapat siswa yang kesulitan mengikuti pembelajaran, walaupun menurut
guru itu merupakan materi yang mudah. Namun untuk pembelajaran di kelas IX,
menurut pengakuan siswa melalui tanya jawab antara guru Bahasa Indonesia dan
siswa kelas IX, dari keeempat keterampilan berbahasa itu mereka sangat
kesulitan dalam berpidato. Sebagai bukti, dari 42 orang siswa kelas IX C SMPN 2
Cipeundeuy tahun 2012/2013, yang merasa kesulitan berpidato ada 36 siswa.
Bahkan dua orang yang tidak kesulitan pun merasa bahwa untuk tampil berpidato
mereka masih demam panggung.
Sebenarnya
kesulitan ini tidak hanya dirasakan oleh siswa saja, guru pun merasakan hal
yang sama. Bahkan tidak kurang guru Bahasa Indonesia merasa tidak mampu untuk
berbicara di depan umum apabila tanpa persiapan terlebih dahulu. Berpidato
sering menjadi hantu yang menakutkan.
Berpidato
sebenarnya tidak terlalu sulit untuk ditampilkan, asalkan saja siswa memiliki
rasa percaya diri yng tinggi karena menampilkan pidatonya tidak dengan teknik
serta merta, melainkan dengan menghafalkan naskah pidato yang mereka buat
sendiri. Namun yang mungkin menjadi masalah besarnya itu aadalah tampil di
depan teman-temannya yang sesekali akan bersorak jika menemukan hal-hal yang
janggal pada pidato temannya. Tentu saja hal ini akan menyebabkan siswa semakin
grogi sehingga apa yang dia hafalkan pun mendadak hilang dari ingatannya.
Mengingat hal
tersebut, penulis berpikir bahwa selain model pembelajaran, teknik penilaiannya
pun harus benar-benar sesuai. Dalam hal ini penulis berpikir untuk menerapkan
teknik penilaian Tayang Shooting mandiri sehingga siswa tidak akan merasakan
demam panggung karena mereka tampil tidak di depan temannya, tetapi mereka
merekam tampilan sendiri yang kemudian filmnya diberikan ke guru. Melalui
teknik seperti itu diharapkan siswa tidak demam panggung hingga memperoleh
nilai baik. Bukankah keberhasilan sebuah pembelajaran itu dapat terlihat dari
perolehan nilai siswa?
Beberapa hal yang
peneliti temukan tadi, menjadikan penulis berpikir untuk menerapkan model
pembelajaran yang kira-kira cocok bila digunakan untuk menyelesaikan
problematika pembelajaran berpidato. Akhirnya peneliti mengingat sebuah
pelatihan Smart Teaching yang pernah
diikuti di hotel Endah Parahyangan Cimahi pada tahun 2010 yang diselenggarakan
oleh PT Saga Paripurna yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan
Olahraga Kabupaten Bandung Barat.
Pada pelatihan itu tim
penyaji menjelaskan sebuah model pembelajaran Pikat Alami Namai Tunjukkan
Ulangi Namai (PANTUN) yang digunakan pada pembelajaran IPA. Namun peneliti
berpikir bahwa model pembelajaran PANTUN ini pun dapat diterapkan dalam
pembelajaran Bahasa Indonesia. Sekaitan dengan itu peneliti akhirnya mencoba
menerapkan model pembelajaran PANTUN untuk memecahkan problematika pembelajaran
berpidato selama ini.
Model pembelajaran
PANTUN ini tampaknya merupakan pengalihan nama dari sebuah model pembelajaran
kuantum (Quantum Teaching) yang dirancang oleh Bobbi dePorter (Rusman: 20120).
Bobbi membuat kerangka perancangan pembelajaran kuantum dengan nama TANDUR
(Tumbuhkan Alami Namai Demonstrasikan Ulangi Rayakan). Tumbuhkan yang dimaksud
Bobbi adalah pikat dalam pembelajaran PANTUN, sementara itu Demonstrasikan yang
dimaksud oleh Bobbi adalah Tunjukkan dalam PANTUN, dan Rayakan yang dimaksud
Bobbi adalah Nikmati dalam PANTUN.
Setelah melakukan kajian seperti yang sudah dipaparkan, maka penulis
akan mencoba menerapkan model pembelajaran PANTUN dalam pembelajaran
menulis naskah drama untuk dijadikan penelitian tindakan kelas yang berjudul “PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PANTUN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IX C SMPN 2 CIPEUNDEUY DALAM BERPIDATO”.