Showing posts with label Penelitian Tindakan Kelas. Show all posts
Showing posts with label Penelitian Tindakan Kelas. Show all posts

Penelitian Tindakan Kelas Bahasa Inggris



IMPROVING STUDENTS’ WRITING  ABILITY THROUGH COLLABORATIVE WRITING IN LEARNING RECOUNT TEXT FOR EIGHTH  GRADE STUDENT OF 
  SMPN 2 CIPEUNDEUY

Susilowati Handayani


A.      LATAR BELAKANG
Saat ini Bahasa Inggris adalah bahasa utama komunikasi antarbangsa. Selain digunakan sebagai media untuk berkomunikasi juga digunakan untuk menguasai teknologi. Selain itu, Bahasa Inggris merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis. Kemampuan berkomunikasi adalah kemampuan menghasilkan teks lisan dan tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keempat keterampilan inilah yang digunakan dalam pembelajaran mata pelajaran Bahasa Inggris baik ditingkat SMP maupun tingkat SMA agar lulusan mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris

PTK Bahasa Indonesia



PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PANTUN
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
DALAM PEMBELAJARAN BERPIDATO
(Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas IX C  SMPN 2 Cipeundeuy
 Kabupaten Bandung Barat Tahun Pelajaran 2012/2013)



A.      PENDAHULUAN
Bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi yang mampu menyatukan bangsa Indonesia yang beraneka ragam suku bangsa. Dengan menggunakan bahasa Indonesialah penduduk Indonesia yang berbeda adat dan budayanya mampu berkomunikasi, sehingga bahasa Indonesia akhirnya dipelajari di sekolah dan menjadi salah satu pelajaran terpenting dari sekian banyak pelajaran yang diberikan.
Pada pelaksanaannya, di dalam kelas Bahasa Indonesia diajarkan dalam dua aspek, yaitu kebahasaan dan kesusasteraan. Pada tataran kebahasaan guru lebih banyak yang mampu jika dibandingkan dengan kesusasteraan, sehingga dengan dasar ketidakmampuan itulah akhirnya guru merasa lebih sering bermasalah dalam mengajarkan sastra daripada kebahasaan. Padahal jika ditekuni dengan ikhlas, lambat laun ketidakmampuan tersebut apabila ulet menggelutinya akan berubah menjadi mampu.
1. Latar Belakang Masalah
Hasil belajar merupakan hal yang penting dalam pembelajaraan, baik itu hasil yang dapat diukur secara langsung dengan angka maupun hasil belajar yang dapat dilihat pada penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu  ciri ketidakberhasilan pembelajaran ditandai oleh siswa yang cenderung hanya menghafal tetapi tidak memahami esensi makna materi, bahkan tidak mengetahui aplikasi tentang materi pembelajaran yang telah diperolehnya ke dalam dunia nyata. Namun biasanya yang lebih mudah dikenali adalah perolehan nilai siswa pada tes formatif.
Banyak faktor penyebab ketidakberhasilan sebuah pembelajaran. Mungkin saja siswa yang kurang motivasi belajarnya, atau guru yang tidak mampu menciptakan pembelajaran yang memfasilitasi belajar siswa sehingga memiliki motivasi belajar yang tinggi atau mungkin saja karena sarana yang dimiliki tidak memadai. Namun semua faktor tersebut sebenarnya akan mampu diatasi bila guru lebih kreatif. Guru memiliki tanggung jawab yang cukup berat seperti yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 pasal 19 ayat 1 tentang standar nasional pendidikan (SNP).
“Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Melalui pengamatan di lapangan, materi semudah apa pun akan tidak bermakna bagi siswa jika tidak disampaikan dengan menggunakan model atau metode yang tidak tepat. Dalam hal ini mengandung makna tersirat bahwa sebuah pembelajaran akan berhasil jika guru dapat menyiasati semua hal yang menyangkut pembelajaran karena seperti kata pepatah, bahasa ituala bisa karena biasa. Hal itu mengandung makna bahwa sesulit apapun akan bisa dikuasai jika terus menerus dilatih. Bukankan bahasa itu adalah keterampilan?
Bahasa memiliki empat keterampilan, yaitu membaca, menyimak, berbicara, dan menulis. Semuanya memiliki kesulitan tersendiri bagi orang-orang tertentu. Oleh karena itu guru hendaknya teliti pada saat pembelajaran berlangsung karena mungkin saja terdapat siswa yang kesulitan mengikuti pembelajaran, walaupun menurut guru itu merupakan materi yang mudah. Namun untuk pembelajaran di kelas IX, menurut pengakuan siswa melalui tanya jawab antara guru Bahasa Indonesia dan siswa kelas IX, dari keeempat keterampilan berbahasa itu mereka sangat kesulitan dalam berpidato. Sebagai bukti, dari 42 orang siswa kelas IX C SMPN 2 Cipeundeuy tahun 2012/2013, yang merasa kesulitan berpidato ada 36 siswa. Bahkan dua orang yang tidak kesulitan pun merasa bahwa untuk tampil berpidato mereka masih demam panggung.
Sebenarnya kesulitan ini tidak hanya dirasakan oleh siswa saja, guru pun merasakan hal yang sama. Bahkan tidak kurang guru Bahasa Indonesia merasa tidak mampu untuk berbicara di depan umum apabila tanpa persiapan terlebih dahulu. Berpidato sering menjadi hantu yang menakutkan.
Berpidato sebenarnya tidak terlalu sulit untuk ditampilkan, asalkan saja siswa memiliki rasa percaya diri yng tinggi karena menampilkan pidatonya tidak dengan teknik serta merta, melainkan dengan menghafalkan naskah pidato yang mereka buat sendiri. Namun yang mungkin menjadi masalah besarnya itu aadalah tampil di depan teman-temannya yang sesekali akan bersorak jika menemukan hal-hal yang janggal pada pidato temannya. Tentu saja hal ini akan menyebabkan siswa semakin grogi sehingga apa yang dia hafalkan pun mendadak hilang dari ingatannya.
Mengingat hal tersebut, penulis berpikir bahwa selain model pembelajaran, teknik penilaiannya pun harus benar-benar sesuai. Dalam hal ini penulis berpikir untuk menerapkan teknik penilaian Tayang Shooting mandiri sehingga siswa tidak akan merasakan demam panggung karena mereka tampil tidak di depan temannya, tetapi mereka merekam tampilan sendiri yang kemudian filmnya diberikan ke guru. Melalui teknik seperti itu diharapkan siswa tidak demam panggung hingga memperoleh nilai baik. Bukankah keberhasilan sebuah pembelajaran itu dapat terlihat dari perolehan nilai siswa?
Beberapa hal yang peneliti temukan tadi, menjadikan penulis berpikir untuk menerapkan model pembelajaran yang kira-kira cocok bila digunakan untuk menyelesaikan problematika pembelajaran berpidato. Akhirnya peneliti mengingat sebuah pelatihan  Smart Teaching yang pernah diikuti di hotel Endah Parahyangan Cimahi pada tahun 2010 yang diselenggarakan oleh PT Saga Paripurna yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bandung Barat.
Pada pelatihan itu tim penyaji menjelaskan sebuah model pembelajaran Pikat Alami Namai Tunjukkan Ulangi Namai (PANTUN) yang digunakan pada pembelajaran IPA. Namun peneliti berpikir bahwa model pembelajaran PANTUN ini pun dapat diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Sekaitan dengan itu peneliti akhirnya mencoba menerapkan model pembelajaran PANTUN untuk memecahkan problematika pembelajaran berpidato selama ini. 
Model pembelajaran PANTUN ini tampaknya merupakan pengalihan nama dari sebuah model pembelajaran kuantum (Quantum Teaching) yang dirancang oleh Bobbi dePorter (Rusman: 20120). Bobbi membuat kerangka perancangan pembelajaran kuantum dengan nama TANDUR (Tumbuhkan Alami Namai Demonstrasikan Ulangi Rayakan). Tumbuhkan yang dimaksud Bobbi adalah pikat dalam pembelajaran PANTUN, sementara itu Demonstrasikan yang dimaksud oleh Bobbi adalah Tunjukkan dalam PANTUN, dan Rayakan yang dimaksud Bobbi adalah Nikmati dalam PANTUN.
Setelah melakukan kajian seperti yang sudah dipaparkan, maka penulis akan mencoba menerapkan model pembelajaran PANTUN  dalam pembelajaran menulis naskah drama untuk dijadikan penelitian tindakan kelas yang berjudul “PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PANTUN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IX C SMPN 2 CIPEUNDEUY  DALAM BERPIDATO”.

PTK B.Indonesia


PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
 DALAM MENULIS PANTUN
(PTK pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VII A
SMPN 2 Cipeundeuy Tahun 2010/2011)

Eni Haerini, S.Pd.
Alamat email: eni_haerini@ymail.com



ABSTRAK
Penguasaan keterampilan menciptakan sebuah pantun merupakan esensi dari pembelajaran menulis pantun. Oleh karena itu ketika ditemukan begitu banyak siswa kelas IX yang tidak mampu membuat pantun padahal materi tersebut sudah dipelajari saat mereka duduk di bangku kelas VII, maka penulis mencoba menerapkan model pembelajaran Kooperatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII di tempat bertugas yaitu SMPN 2 Cipeundeuy.
Alhamdulillah dengan menggunakan teknik Number Head Together (NHT) dan Jigsaw yang diawali  dan diakhiri dengan tes berupa pilihan ganda yang dilaksanakan melalui dua siklus, tujuan penelitian tercapai berupa peningkatan hasil belajar yang terukur berupa nilai semua siswa yang melampaui KKM     (Kriteria Ketuntasan Belajar) dengan rata-rata nilai 86,25 serta meningkatnya aktivitas siwa dalam mengikuti pembelajaran.
Namun demikian, kiranya perlu dillakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan tes berupa uraian karena dalam kehidupan sehari-hari pantun diciptakan tidak dengan cara disediakan beberapa pilihan. Oleh karena itu sebaiknya  model pembelajaran yang dipilih harus berbeda karena pada siklus kedua yang menggunakan metode Jigsaw,  penggunaan waktu tampak kurang efektif

Katakunci: model kooperatif, hasil belajar, menulis pantun.



ABSTRACT

Mastery of skills creates a rhyme is the essence of learning to write rhymes. Therefore, when it was discovered that many students of class IX were not able to make the rhymes  when the material has been studied as they sat on grade VII, the writer tries to apply the learning model to improve Cooperative learning outcomes of students of class VII SMPN 2 Cipeundeuy.
 Alhamdulillah by using Number Head Together (NHT) and Jigsaw that begins and ends with a multiple choice test be carried out through two cycles, the research goal is achieved by increasing the measurable learning outcomes of all students in the form of value that goes beyond KKM (mastery learning criteria) with the average The average value of 86.25 and the increased activity of students in participating in learning.
However, further research would need to be done using tests such as essay  because in everyday life rhymes were created not by provided several options. Therefore, we recommend learning model chosen should be different for the second cycle of the Jigsaw method less effective in the use of time.

Keyword: Cooperative learning, outcomes, write rhymes

Proposal PTK IPS



Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi  Pelaku-Pelaku Ekonomi dalam Sistem Perekonomian di Indonesia Melalui Penerapan Metode  Diskusi Kelompok di kelas 8C SMP Negeri 2 Cipeundeuy  Kabupaten Bandung Barat



PROPOSAL 
PENELITIAN TINDAKAN KELAS





N. SITI MARDIAH HANDAYANI,S.Pd
NIP. 197102262005012003







SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 2 CIPEUNDEUY
KABUPATEN BANDUNG BARAT
2012

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Makna dan hakikat belajar diartikan sebagai proses membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau pengalaman. Proses membangun makna tersebut dapat dilakukan sendiri oleh siswa atau bersama orang lain. Proses itu disaring dengan persepsi, pikiran (pengetahuan awal), dan perasaan siswa (Indra Jati Sidi, 2004:4). Belajar bukanlah proses menyerap pengetahuan yang sudah jadi bentukan guru. Buktinya, hasil ulangan siswa berbeda-beda padahal mendapat pengajaran yang sama, dari guru yang sama, dan pada saat yang sama.
Pembelajaran yang bermakna akan membawa siswa pada pengalaman belajar yang mengesankan. Pengalaman yang diperoleh siswa akan semakin berkesan apabila proses pembelajaran yang diperolehnya merupakan hasil dari pemahaman dan penemuannya sendiri. Dalam konteks ini siswa mengalami dan melakukannya sendiri. Proses pembelajaran yang berlangsung melibatkan siswa sepenuhnya untuk merumuskan sendiri suatu konsep. Keterlibatan guru hanya sebagai fasilitator dan moderator dalam proses pembelajaran tersebut.
Menurut Kurikulum Berbasis Kompetensi yang disempurnakan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan bahwa setiap individu mempunyai potensi yang harus dikembangkan, maka proses pembelajaran yang cocok adalah yang menggali potensi anak untuk selalu kreatif dan berkembang.
Namun kenyataan di lapangan belum menunjukkan ke arah pembelajaran yang bermakna. Para pendidik masih perlu penyesuaian dengan KTSP, para guru sendiri belum siap dengan kondisi yang sedemikian plural sehingga untuk mendesain pembelajaran yang bermakna masih kesulitan. Sistem pembelajaran duduk tenang, mendengarkan informasi dari guru sepertinya sudah membudaya sejak dulu, sehingga untuk mengadakan perubahan ke arah pembelajaran yang aktif, kreatif, menyenangkan agak sulit. Guru seringkali mendapatkan kendala bagaimana memilih dan menggunakan metode dalam pembelajaran, metode dan strategi yang bagaimana yang paling disukai siswa, sehingga akan tercipta pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, menyenangkan gembira dan berbobot.
            Penulis sebagai guru mata pelajaran IPS menghadapi berbagai kendala dalam menyampaikan materi pembelajaran, khususnya dalam memilih metode, agar pembelajaran tidak membosankan. Tidak dipungkiri bahwa pembelajaran IPS selama ini tidak luput dari kecenderungan proses pembelajaran teacher centered. Kondisi demikian tentu membuat proses pembelajaran hanya dikuasai guru. Apalagi pembelajaran IPS merupakan mata pelajaran sarat materi sehingga siswa dituntut memiliki pemahaman yang holistik terhadap materi yang disampaikan guru. Pembelajaran yang  bersifat monoton ini akan membosankan dan terus berlangsung apabila para guru hanya menggunakan meode yang konvensional saja, tidak melakukan perubahan dalam kegiatan pembelajarannya.
            Berdasarkan kenyataan bahwa hasil belajar dan aktivitas belajar siswa masih kurang dalam mengikuti pembelajaran maka penulis ingin melakukan penelitian khususnya di kelas 8C yang dalam pembelajaran kurang memuaskan, yaitu sekitar 70 % siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal, dari 40 siswa baru 30 % yang mencapai KKM.
Menyikapi kenyataan tersebut, penulis menganggap perlu melakukan penelitian berupa PTK dengan mencoba menggunakan metode Diskusi Kelompok yang bertujuan untuk mengaktifkan siswa dan menggali kemampuan siswa dengan mengutamakan kerjasama dan potensi diri dalam mempelajari materi pelajaran, sehingga hasil belajar siswa meningkat dari sebelumnya.
            Berdasarkan latar belakang tersebut,penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pelaku-pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian Melalui Penerapan metode diaskusi di kelas 8C SMP Negeri 2 Cipeundeuy  Kabupaten Bandung Barat .
            Kelas yang akan dijadikan sasaran peneliian adalah kelas 8C karena memiliki karakteristik yang berbeda dengan kelas yang lainnya, antara lain:
1.      Keaktifan belajar siswa 8C masih sangat kurang dalam mengikuti pembelajaran IPS.
2.      Siswa kelas 8C, kurang berpartisipasi dalam pembelajaran yang ditandai dengan pasif dalam mengikuti pembelajaran, malu bertanya maupun menjawab.
3.      Masih rendahnya hasil belajar siswa kelas   dalam pelajaran IPS


Proposal PTK Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)



penerapan Metode Tanya Jawab dengan variasi media pembelajaran terhadap peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PKn



(Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas VIIIA SMPN SATAP RIMBA KARYA
dalam bahan ajar Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara)

PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS










Disusun oleh :

Euis Nurlaela. MM.Pd





SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI SATAP RIMBA KARYA
KEC. CIPEUNDEUY KAB. BANDUNG BARAT
2012
HALAMAN PENGESAHAN

1.        Judul :
“Penerapan Metode Tanya Jawab Dengan Variasi Media Pembelajaran Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dalam Mata Pelajaran PKN Pada Siswa Kelas   VIII-A SMPN Satap Rimba Karya, Kab. Bandung Barat”.

2.      Identitas Peneliti :
Nama                                       :   Euis Nurlaela.MM.Pd
NIP                                         :   -
Jabatan / Gol                           :   -
Unit Kerja                               :   SMPN Satap Rimba Karya, Kab. Bandung Barat

Disetujui dan disahkan :
Tanggal : 5 Desember 2012


Mengetahui:                                                                            Peneliti,
Kepala SMPN Satap Rimba Karya


KHIDIK ABDUL KHOHAR, S.Pd                           EUIS NURLELA, S.Pd, MM.Pd
NIP. 19620206198603100


Mengetahui:
Pembimbing LPMP JABAR,




IDRIS APANDI, M.Pd.
NIP. 198003152002121002
KATA PENGANTAR


Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah  memberikan berkah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan hasil Penelitian Tindakan Kelas yang diberi judul “penerapan Metode Tanya Jawab dengan variasi media pembelajaran terhadap peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PKn(Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas VIII-A SMPN SATAP RIMBA KARYA dalam bahan ajar Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara)”                                  
Tujuan penyusunan laporan PTK ini adalah untuk memberikan informasi beberapa temuan yang telah diperoleh sehingga dapat dijadikan bahan kajian rekan-rekan guru dalam menyampaikan bahan pelajaran PKn, khususnya dalam materi “Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara”.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan  terima kasih kepada berbagai pihak yang telah turut aktif dalam pelaksanaan PTK dan dalam penyusunan laporan ini. Semoga kebaikannya dapat diterima sebagai amal kebaikan di sisi Allah SWT.
Penulis menyadari bahan PTK ini masih memiliki bebagai kekurangan Namun demikian, penulis mengharapkan semoga laporan PTK ini memiliki manfaat yang sebesar-besarnya.

Bandung Barat,   November 2012                          
Peneliti,



                                                                        Euis Nurlaela, MM.Pd





DAFTAR ISI
                                                                       



Hal
Lembaran Pengesahan ……………………………………………………..
i
Kata Pengantar ……………………………………………………………....
ii
Daftar Isi ………………………………………………………………………...
iii
ABSTRAK …………………………………………………………………………..
iv
BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah …………………………………………...
1

B. Permasalahan Dan Pemecahan  Masalah ………………………….
2

C. Rumusan Masalah …………………………………………………
2




D. Tujuan Penelitian ………………………………………………….
2







E. Manfaat Penelitian …………………………………………………
3

F. Hipotesis Tindakan ………………………………………………...
3
BAB II
LANDASAN TEORI


A. Hakekat Pembelajaran …………………………………………….
4

B. Hakekat Metode Tanya Jawab  ……………………………………
11



BAB III
METODELOGI PENELITIAN


A. Metode  Penelitian ………………………………………………...
14

B. Lokasi, Subjek dan Objek  penelitian ……………………………..
14

C. Waktu  Penelitian ………………………………………………….
14

D. Teknik Pengumpulan Data ………………………………………..
16

E. Teknik Analisis Data ………………………………………………
17
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………..
18



















ABSTRAK

penerapan stimulus “membuat karangan” dan “menggambar” DENGAN Metode Tanya Jawab  TERHADAP peningkatan hasil belajar  siswa  dalam  pembelajaran PKn (Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas VIII-A SMPN SATAP RIMBA KARYA dalam bahan ajar Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya prosentase ketercapaian atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang diperioleh siswa kelas VIII SMPN SATAP RIMBA KARYA.  Dari jumlah siswa 36 orang yang mengikuti post tes pada bahan ajar Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara dengan pembelajaran model Cooperatif Leraning, hanya 17 orang yang dapat dinyatakan lulus (47,22%) dan sisanya sekitar 19 orang dinyatakan belum lulus (52,78%). Data tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar dalam bahan ajar tersebut dapat dinyatakan belum tuntas. Ketidaktuntasan tersebut terlihat dari bukti prosentase kelulusan seluruh siswa hanya mencapai 47,22%. Prosentase tersebut jauh dari prosentase ideal antara 80% - 100%.Bahkan prosentase kelulusan tersebut ternyata lebih kecil daripada prosentase ketidaklulusan.Oleh karena itu, untuk kasus tersebut perlu diadakan remedial klasikal. Proses remedial klasikal dalam kasus ini penulis lakukan melalui kegiatan penelitian tindakan kelas.
Rumusan permasalahan penelitian ini adalah: “Bagaimana  penerapan Metode Tanya Jawab dengan variasi media pembelajaran terhadap peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PKn khusus dalam materi Ideologi Pancasila  pada siswa kelas VIIIA SMPN SATAP RIMBA KARYA, Cipeundeuy.”
Adapun tujuan kegiatan penelitian tindakan kelas ini adalah:
(1) untuk mengetahui penerapan Metode Tanya Jawab  dengan variasi media pembelajaran dalam pembelajaran PKn.
(2) untuk mengetahui efektivitas penerapan Metode Tanya Jawab  dengan variasi media pembelajaran dalam pembelajaran PKn terhadap peningkatan hasil belajar siswa;
Hasil pelaksanaan penelitian tindakan kelas yang berlangsung dalam 3 siklus penelitian dapat disimpulkan:
1.  Selama berlangsung PTK, upaya penerapan metode Tanya Jawab  dangan variasi media pembelajaran telah dikelola dengan baik.
2.  Kegiatan pembelajaran dengan metode Tanya Jawab  dengan variasi media yang dikelola dengan baik ternyata cukup efektif terhadap peningkatan hasil belajar siswa
3.  Media pembelajaran membuat karangan dan menggambar yang divariasikan dengan Metode Tanya Jawab ternyata cukup efektif untuk menyampaikan materi Pancasila sebagai Dasar Negara dan sebagai Ideologi Negara.
4.  Hipotesis tindakan yang menyatakan “apabila upaya penerapan metode Tanya Jawab  dangan variasi media pembelajaran dapat berjalan efekltif, maka hasil belajar siswa akan meningkat” dapat diterima.

Kata Kunci: Upaya, stimulus, dan Metode Tanya Jawab