PTK B.Indonesia


PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
 DALAM MENULIS PANTUN
(PTK pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VII A
SMPN 2 Cipeundeuy Tahun 2010/2011)

Eni Haerini, S.Pd.
Alamat email: eni_haerini@ymail.com



ABSTRAK
Penguasaan keterampilan menciptakan sebuah pantun merupakan esensi dari pembelajaran menulis pantun. Oleh karena itu ketika ditemukan begitu banyak siswa kelas IX yang tidak mampu membuat pantun padahal materi tersebut sudah dipelajari saat mereka duduk di bangku kelas VII, maka penulis mencoba menerapkan model pembelajaran Kooperatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII di tempat bertugas yaitu SMPN 2 Cipeundeuy.
Alhamdulillah dengan menggunakan teknik Number Head Together (NHT) dan Jigsaw yang diawali  dan diakhiri dengan tes berupa pilihan ganda yang dilaksanakan melalui dua siklus, tujuan penelitian tercapai berupa peningkatan hasil belajar yang terukur berupa nilai semua siswa yang melampaui KKM     (Kriteria Ketuntasan Belajar) dengan rata-rata nilai 86,25 serta meningkatnya aktivitas siwa dalam mengikuti pembelajaran.
Namun demikian, kiranya perlu dillakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan tes berupa uraian karena dalam kehidupan sehari-hari pantun diciptakan tidak dengan cara disediakan beberapa pilihan. Oleh karena itu sebaiknya  model pembelajaran yang dipilih harus berbeda karena pada siklus kedua yang menggunakan metode Jigsaw,  penggunaan waktu tampak kurang efektif

Katakunci: model kooperatif, hasil belajar, menulis pantun.



ABSTRACT

Mastery of skills creates a rhyme is the essence of learning to write rhymes. Therefore, when it was discovered that many students of class IX were not able to make the rhymes  when the material has been studied as they sat on grade VII, the writer tries to apply the learning model to improve Cooperative learning outcomes of students of class VII SMPN 2 Cipeundeuy.
 Alhamdulillah by using Number Head Together (NHT) and Jigsaw that begins and ends with a multiple choice test be carried out through two cycles, the research goal is achieved by increasing the measurable learning outcomes of all students in the form of value that goes beyond KKM (mastery learning criteria) with the average The average value of 86.25 and the increased activity of students in participating in learning.
However, further research would need to be done using tests such as essay  because in everyday life rhymes were created not by provided several options. Therefore, we recommend learning model chosen should be different for the second cycle of the Jigsaw method less effective in the use of time.

Keyword: Cooperative learning, outcomes, write rhymes

 
A.      PENDAHULUAN
Setiap guru pasti pernah memiliki problematika dalam pembelajaran, seperti guru Bahasa Indonesia. Pada umumnya, guru bahasa Indonesia banyak memiliki problematika pada pembelajaran sastra. Guru Bahasa Indonesia seringkali menyiasatinya dengan cara mengajarkan materi-materi sulit itu seadanya dan tidak peduli terhadap hasil belajar siswa. Hal ini sebenarnya tidak boleh terjadi. Sebaiknya guru Bahasa Indonesia belajar mencintai dunianya di sekolah dengan cara belajar. Baik itu melalui membaca, berbagi ilmu dengan rekan kerja, mengikuti pelatihan, atau melaksanakan penelitian tindakan kelas.
Melalui usaha-usaha yang dilakukan  dengan niat ikhlas untuk ibadah, Insya Allah guru akan menjadi semakin hebat dari waktu ke waktu. Ingatlah bahwa guru sebenarnya memiliki kewajiban untuk melaksanakan pembelajaran benar-benar tepat sasaran. Hal ini seperti yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah nomor 19 pasal 19 ayat 3 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Hal itu berarti guru harus benar-benar pandai memilih model pembelajaran yang akan dilaksanakan. Model pembelajaran yang dimaksud adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas (Arif, 2012). Tentu saja model yang dipilih pun harus berkesesuaian dengan materi pembelajaran serta siswa yang menjadi sasaran dari pembelajaran tersebut, sehingga tujuan yang ditetapkan dapat tercapai tanpa harus remedial.
Melalui pengamatan di lapangan, materi semudah apa pun akan tidak bermakna bagi siswa jika tidak disampaikan dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat seperti materi menulis pantun yang sesuai dengan syarat-syaratnya.Hal ini sesuai dengan  mengungkapkan bahwa sampai saat ini apa yang diungkapkan  sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan menulis pantun sesuai syarat-syaratnya. Siswa pun merasa jenuh dan kesulitan dalam merangkai kata-kata sehingga sulit untuk menyenangi pantun apalagi menciptakannya.
Hal yang terjadi di lapangan pun begitu. Pada saat  penulis mengajarkan materi syair di kelas IX yang sering kali ditautkan dengan pantun melihat sebuah problematika. Siswa kelas IX hanya satu atau dua orang saja yang dapat menyebutkan ciri-ciri sebuah pantun. Itu pun biasanya mereka hanya  mampu menyebutkan sajaknya saja yaitu a-b-a-b. Sedangkan untuk menciptakan pantun dengan serta merta tidak ada yang pernah bisa padahal kompetensi dasar menulis pantun di SMP hanya diberikan satu kali pada semester pertama di kelas VII, artinya bahwa pembelajaran menulis pantun harus benar-benar dapat dirasakan oleh siswa kebermaknaannya sehingga akan  terlihat dari perolehan nilai sebagai hasil belajarnya.
Berdasarkan latar belakang  itulah peneliti melakukan penelitian tindakan kelas sebagai upaya unttuk memperbaiki pembelajaran dengan judul “PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIIA SMPN 2 CIPEUNDEUY TAHUN 2010/2011”.
      Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan itu juga,  penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut.: (1) Apakah model pembelajaran kooperatif dapat menigkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMPN 2 Cipeundeuy Tahun 2010/2011 dalam menulis pantun?; (2) Seberapa besar peningkatan hasil belajar siswa kelas VII SMPN 2 Cipeundeuy dalam menuulis pantun setelah menggunakan model Pembelajaran Kooperatif?; dan (3) Bagaimana proses peningkatan hasil belajar siswa kelas VII SMPN 2 Cipeundeuy dalam menulis pantun sebelum dan sesudah menggunakan model Pembelajaran Kooperatif?
 Sekaitan dengan rumusan masalahnya, penelitian ini dilakukan untuk memecahkan problematika pembelajaran menulis pantun sehingga hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah: (1) untuk mengukur peningkatan hasil belajar siswa kelas VII SMPN 2 Cipeundeuy Tahun 2010/2011 dalam menulis pantun setelah menggunakan model Pembelajaran Kooperatif.; (2) untuk mengetahui besarnya peningkatan hasil belajar siswa kelas VII SMPN 2 Cipeundeuy Tahun 2010/2011 dalam menulis pantun setelah menggunakan model Pembelajaran Kooperatif; dan (3) untuk mengetahui proses peningkatan hasil belajar siswa kelas VII SMPN 2 Cipeundeuy dalam menulis pantun sebelum dan sesudah menggunakan model Pembelajaran Kooperatif.
Ketiga tujuan penelitian  tersebut dapat diduga keberhasilannaya melalui hipotesis penelitian. Oleh karena itu hipotesis penelitian ini adalah “Terdapat pengaruh penggunaan model pembelajaraan kooperatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMPN 2 Cipeundeuy tahun 2010/2011 alam menulis pantun.”

B.       METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas yang dilakukan merupakan sebuah penelitian tindakan kelas (PTK) eksperimental, yaitu penelitian berupa penerapan model pembelajaran kooperatif yang dianggap memiliki keunggulan tertentu sebagai upaya untuk mengatasi problematika pembelajaran. Dengan PTK eksperimental diharapkan peneliti dapat menentukan cara mana yang paling efektif dalam rangka untuk mencapai tujuan (Muslihuddin, 2011:73).
Sumber data penelitian diperoleh setelah melakukan proses pembelajaran selama 2 siklus. Data tersebut berupa nilai tes awal dan tes akhir dari kedua siklus;  angket observasi yang diisi oleh para observer pada saat pelaksanaan pembelajaran; serta catatan refleksi dengan para observer pada kedua siklus. 
Penelitian diawali dari sebuah fakta bahwa kelas IX SMPN 2 Cipeundeuy tahun 2010/2011 belum mampu memuat sebuah pantun dengan serta merta, bahkan menyebutkan ciri-cirinya pun hanya satu dua siswa saja yang mampu. Kemudian berdasarkan fakta tersebut, peneliti yang kebetulan juga pengajar di kelas VII, akhirnya mencoba membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) menulis pantun dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif.
Pada siklus pertama, pembelajaran dilaksanakan dalam sebuah Open Lesson yang merupakan bagian dari program Lesson Study dengan peneliti sebagai guru modelnya. Oleh karena itu observer dalam penelitian itu cukup banyak.  Setelah diperoleh data berupa hasil pretes dan postes yang dilakukan pada siklus pertama serta catatan refleksi pada siklus pertama, peneliti membuat RPP ke-2  dengan memperbaiki langkah-langkah pembelajaran RPP ke-1 serta mengganti media dan bentuk soal  tes yang digunakan pada pelaksanaan pembelajaran menulis pantun siklus pertama.
Pada siklus ke-2 peneliti melaksanakan RPP ke-2 di kelas yang sama. Pelaksanaan pembelajaran siklus ke-2 tidak lagi disertai observer yang banyak karena bukan merupakan sebuah Open Lesson lagi. Observer pada siklus kedua hanya tiga orang guru Bahasa Indonesia di SMPN 2 Cipeundeuy. Setelah melakukan refleksi pembelajaran yang dibimbing oleh guru, siswa mengerjakan tes akhir.
Pada ruangan tersendiri, peneliti dan observer mengevaluasi hasil pelaksanaan pembelajaran dari data yang berupa nilai pretes dan postes serta lembar pengamatan observasi.
Hasil evaluasi menunjukkan sebuah keberhasilan dengan adanya peningkatan nilai postes sehingga tidak lagi direncanakan sebuah pembelajaran baru sebagai siklus ke-3. Hasil inilah yang kemudian dilaporkan sebagai hasil penelitian tindakan kelas.

C.       HASIL PEMBAHASAN
Rusman dalam Muslim (2012:208) mengungkapkan Pembelajaran Kooperatif adalah suatu aktivitas pembelajaran yang menggunakan pola belajar siswa berkelompok untuk menjalin kerja sama dan saling ketergantungan dalam struktur tugas, tujuan dan hadiah.
Model pembelajaran Kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai sebuah model pembelajaran seperti yang dikemukakan oleh Rusman (2012:136),   yaitu:   (1) model pembelajaran kooperatif dikembangkan berdasarkan teori pembelajaran kooperatif kontruktivis. Hal ini terlihat pada salah satu teori Vigotsky yakni penekanan pada hakekat sosiokultural dari pembelajaran Rusman (2012:209); model pembelajaran kooperatif memiliki misi untuk mencapai hasil belajar kompetensi akademik dan mengembangkan kompetensi sosial siswa; (2) model pembelajaran kooperatif dapat dijadikan perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas; (3) model pembelajaran kooperatif memiliki langkah-langkah pembelajaran, memiliki prinsip-prinsip reaksi, memiliki sistem sosial dan sistem pendukung; dan (4) model pembelajaran kooperatif memiliki dampak berupa hasil belajar yang dapat diukur dan dampak pengiring berupa hasil belajar jangka panjang.
Sementara itu menulis berarti menyampaikan pikiran , perasaan, atau pertimbangan, melalui tulisan dengan alatnya yang berupa kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana (Akip,2012). Sedangkan pantun terdiri atas kata-kata. Oleh karena itu  berarti menulis pantun merupakan penyampaian pikiran  melalui tulisan yang berupa pantun.
Puspita Ninggrum dalam  skripsinya (2011) mengungkapkan bahwa sampai saat ini  sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan menulis pantun sesuai syarat-syaratnya. Siswa pun merasa jenuh dan kesulitan dalam merangkai kata-kata sehingga sulit untuk menyenangi pantun apalagi menciptakannya. Hal tersebut teramati pula melalui pengamatan dalam sebuah program  pembinaan profesi pendidik yaitu Lesson Studi. Menulis pantun pun ternyata menjadi sebuah problematika pembelajaran sastra di sekolah, padahal pantun kelak dapat  digunakan mengutarakan kepentingan di dalam pergaulan (Fenny,2009). Selain itu pantun  merupakan sastra Melayu yang sampai sekarang masih dikembangkan (Ayuna,2009) sehingga sering dijadikan alat untuk berkomunikasi karena mampu mengetengahkan aspirasi masyarakat dengan jelas (Kaskus, 2011). 
 Sebenarnya tidak banyak teori yang harus dikuasai oleh siswa dalam pembelajaran yang kompetensi dasarnya menulis pantun berdasarkan syarat-syaratnya. Hal ini seperti yang dikemukakan Soetarno (1967:19) bahwa ciri-ciri sebuah pantun, yaitu: (1) tiap bait pantun terdiri atas empat baris; (2) setiap baris terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata; (3) sajak akhirnya merupakan sajak silang a-b-a-b; dan (4) baris ke-1 dan ke-2 merupakan sampiran sedangkan baris ke-3 dan ke-4 merupakan isi. Penjelasan Soetarno itu menunjukkan bahwa teori pantun yang harus dikuasai siswa dalam menulis pantun sesuai dengan syarat-syaratnya sangatlah sedikit. 
Peneliti akhirnya beranggapan bahwa problematika ini sebaiknya segera diselesaikan melalui sebuah penelitian tindakan kelas. Model pembelajaran kooperatif yang memiliki lima ciri sebagai sebuah model pembelajaran  diujicobakan dalam menyelesaikan problematika pembelajaran menulis pantun di kelas VII SMPN 2 Cipeundeuy tahun 2010/2011 yang telah disebutkan pada latar belakang masalah.
Akhirnya, setelah proposal penelitian yang diajukan dapat diterima oleh kepala sekolah, maka penulis  mencoba membuat desain pembelajaran kooperatif yang kemudian diterapkan pada pelaksanaan pembelajaran menulis pantun di kelas VII A SMPN 2 Cipeundeuy tahun 2010/2011.
 Pada siklus pertama hasil pretes menunjukkan ketidakmampuan siswa kelas VII A dalam pembelajaran pantun. Hal ini tampak dari hasil pretes yang menunjukkan tidak adanya nilai pretes siswa yang mencapai KKM (kriteria ketuntasan minimal) kompetensi dasar yaitu 70. Rata-rata nilai pretes hanya 40. Oleh karena itu peneliti berusaha seoptimal mungkin untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif dalam pelaksanaan pembelajaran menulis pantun pada siklus pertama.
Pada tahap apersepsi peneliti sebagai pengajar mengenalkan diri kepada siswa dengan menggunakan sebuah pantun yang dinyanyikan. Kemudian pantun itu dituliskan oleh salah seorang siswa. Secara individual siswa menjawab pertanyaan guru tentang ciri-ciri yang terdapat pada pantun tersebut sehingga siswa melalui bantuan guru mengukuhkan konsep dan syarat-syarat sebuah pantun.
Pada pelaksanaan pembelajaran, peneliti yang berfungsi sebagai guru selalu memberikan hadiah berupa bintang kepada siswa yang aktif bertanya, menjawab, berkomentar, maupun membantu kelancaran pelaksanaan pembelajaran. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memotivasi siswa agar ikut berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.
Melalui teknik NHT (Number Head Together) siswa dikelompokkan untuk mengerjakan sebuah tugas yaitu merangkai kata-kata yang disediakan hingga  menjadi sebuah pantun. Setiap kelompok berlomba untuk lebih cepat dalam menyelesaikan tugas tersebut karena mereka yang paling cepat akan diberi hadiah dengan ketentuan bahwa kelompok yang salah mengerjakan tugasnya mendapatkan sanksi.
Motivasi untuk mendapatkan bintang dan hadiah akhirnya membuat siswa berusaha dengan cepat untuk dapat menyelesaikan tugas mereka lebih cepat sehingga hampir bersamaan mereka mengumpulkan pekerjaannya. Melalui teknik presentasi akhirnya teramati hanya ada satu kelompok yang salah menyusun pantunnya. Hal itu ditunjukkan oleh seorang siswa bernama Surya yang tergolong siswa nakal  di SMPN 2 Cipeundeuy.
Munculnya komentar siswa yang bernama Surya itu menarik perhatian siswa lain serta guru SMPN 2 Cipeundeuy yang menjadi guru model atau pun observer. Oleh karena itu Surya diminta ke depan kelas dan memperbaiki susunan pantun yang salah itu. Dengan cepat surya dapat memperbaiki susunan pantun menjadi sempurna. Akhirnya Surya mendapatkan bintang, sementara kelompok yang salah menyusun pantun diberi sanksi harus menyanyikan lagu “Potong Bebek Angsa” gaya guru model. Dengan perasaan senang, akhirnya mereka yang diberi sanksi bernyanyi sambil bergoyang.
Setelah proses belajar mengajar berakhir, siswa merefleksi pembelajaran. Mereka mengatakan senang mengikuti pembelajaran Karena disertai dengan nyanyian; sikap guru yang ramah dan menyenangkan; terdapat bintang dan hadiah sebagai reward serta mereka dapat berkomunikasi aktif dalam pembelajaran. Selain itu guru pun mengarahkan siswa untuk memahami pentingnya pantun dalam kehidupan mereka sekarang dan pada masa yang akan datang.
Sebagai sesi penutup, siswa melaksanakan postes berupa pengisian soal pilihan ganda yang berjumlah 10. Tentu saja soal-soal ini merupakan soal-soal pemahaman dalam menentukan syarat-syarat pantun dan bagaimana maenyusun sebuah pantun utuh. Penilaian pada tes akhir menunjukkan hasil belajar yang memuaskan. Dari 40 jumlah siswa dalam satu kelas, hanya 2 orang siswa yang memperoleh nilai 60. Selebihnya diatas 70 dengan rincian: 4 siswa memperoleh nilai 100, 6 siswa memperoleh 90, 20 siswa memperoleh nilai 80 dan 8 siswa memperoleh nilai 70. Sehingga didapatkan bahwa nilai rata-ratanya yaitu 80,5.
Pada sesi refleksi yang menjadi rangkaian dari Lesson study diperoleh beberapa catatan yang harus diperhatikan oleh guru, yaitu: (1) guru harus memberikan waktu kepada siswa untuk mencatat; (2) guru tidak boleh memperkenalkan diri dengan menggunakan pantun yang akan membuat siswa ketakutan sebelum belajar karena pada apersepsi guru memperkenalkan diri sebagai guru galak; (3) guru harus menyediakan waktu untuk pembelajaran menciptakan pantun; (4) karena berlomba ingin lebih cepat akhirnyadiskusi kelompok kurang tampak; dan (5) soal tes seharusnya menyertakan perintah kepada siswa untuk menciptakan pantun.
Kelima catatan tersebut dijadikan acuan untuk memperbaiki rencana pelaksanaan pembelajaran untuk dilaksanakan pada siklus kedua. Pada apersepsi dilakukan dengan pantun perkenalan dari guru yang tidak lagi menerangkan bahwa guru memiliki karakter galak melainkan baik hati dan ramah. Seorang siswa menciptakan pantun balasan bagi pantun perkenalan dari guru.  Seorang siswa yang lain menuliskan pantun berbalas tadi di papan tulis.
Selanjutnya seluruh siswa dibagi menjadi 10 kelompok karena pembelajaran akan dilaksanakan dengan menggunakan model Jigsaw, yaitu siswa melakukan suatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama (Rusman, 2012:217).
Kemudian siswa kembali menemukan ciri-ciri pantun yang terdapat pada pantun perkenalan tersebut. Penemuannya didiskusikan dalam kelompok masing-masing. Seorang  siswa dalam setiap kelompok bertugas untuk menguasai ciri-ciri pantun, seorang yang lain bertugas menguasai bagaimana cara mengetahui isi pantun, seorang lagi bertugas menguasai langkah-langkah menciptakan pantun, sedangkan yang terakhir siswa bertugas membuat sebuah pantun.
Siswa bergabung dalam kelompok yang memiliki tugas yang sama. Kemudian mereka berdiskusi tentang tugasnya. Masing-masing siswa mencatat kesimpulan diskusi dalam kelompok besar itu. Setelah mereka membuat kesimpulan tentang materi yang ditugaskan itu, akhirnya kembali kepada kelompok semula dengan membawa perolehan berupa kesimpulan materi yang menjadi tugasnya.
Masing-masing siswa melaporkan hasil perolehannya tersebut secara bergiliran. Sementara itu siswa lain mengomentari sampai mereka memahami keseluruhan materi. Kemudian mereka menyusun teori tentang pantun untuk dipresentasikan. Selama ada yang presentasi, siswa lain harus memperhatikan sehingga akan dapat mengomentari tampilan kelompok lain. Setelah mereka merasa cukup memahami teori pantun, melalui bimbingan guru siswa mengukuhkan konsep dan menuliskannya pada buku catatan.
Untuk menguji pemahaman siswa tentang teori pantun yang telah dikukuhkan itu, siswa diberi tugas membuat sebuah pantun secara bersama-sama dengan tema pilihan kelompok mereka. Dengan diiming-imingi bintang dan hadiah, akhirnya semua kelompok dapat menciptakan sebuah pantun dalam waktu yang tidak lama.
Masing-masing perwakilan kelompok membacakan pantun ciptaannya. Sementara itu siswa yang lain  diminta untuk mengomentari. Alhamdulillah pada tahap ini tidak ada satu kelompok pun yang salah dalam menciptakan pantun. Untuk merayakan keberhasilan itu, guru mengajak siswa bertepuk dengan semangat untuk mereka semua.
Sebelum melakukan tes akhir, guru bersama siswa melakukan refleksi pembelajaran. Mereka dirangsang untuk menyebutkan perasaan masing-masing pada proses pembelajaran berlangsung. Selain itu mereka pun diarahkan untuk memaknai pantun sebagai karya sastra yang bermanfaat sampai kapan pun.
Sebagai akhir dari pembelajaran, guru melakukan evaluasi dengan tes akhir berupa soal pilihan ganda yang jumlahnya 10. Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap lembar jawaban siswa, tampaklah bahwa pada tes tersebut  diperoleh hasil yang memuaskan. Semua siswa memperoleh nilai yang melebihi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu 70. 10 orang siswa memperoleh nilai 100, 10 siswa memperoleh nilai 90,  15 orang memperoleh nilai 80, dan sisanya 5 orang memperoleh nilai 70. Secara keseluruhan dapatlah dihitung bahwa nilai rata-ratanya adalah 86,25.
Perolehan rata-rata nilai itu merupakan sebuah peningkatan hasil belajar. Selain itu aktivitas siswa lebih terlihat dalam diskusi kelompok maupun dalam mengomentari presentasi kelompok lain karena mereka terlihat senang dikondisikan untuk bersosialisasi dengan temannya. Hal ini menjadi salah satu keberhasilan yang diharapkan oleh model pembelajaran Jigsaw. Rusman (2012:218) mengungkapkan bahwa siswa yang terlibat di dalam pembelajaran model kooperatif akan memperoleh prestasi lebih baik, mempunyai sikap yang lebih baik dan positif terhadap pembelajaran, di samping saling menghargai perbedaan dan pendapat orang lain.
Keberhasilan pada siklus kedua itu dianggap sudah menjawab hipotesis penelitian yang telah ditetapkan. Penelitian itu membuktikan bahwa terdapat pengaruh penggunaan model pembelajaraan kooperatif terhadap peningkatan hasil belajar siswa kelas VIIA SMPN 2 Cipeundeuy tahun 2010/2011 dalam menulis pantun.

D.      SIMPULAN DAN SARAN
Model pembelajaran kooperatif yang dikelola dengan baik ternyata mampu meningkatkan hasil belajar siswa dalam menulis pantun yang sesuai dengan syarat-syaratnya. Baik itu peningkatan yang diukur dengan nilai maupun peningkatan yang dilihat melalui pengamatan dalam pelaksanaan proses belajar mengajar.
Pada siklus ke-2 tampak peningkatan proses pembelajaran pada aktivitas siswa dalam berdiskusi dan mengomentari hasil pekerjaan orang lain sehingga terilhat jelas kebutuhan  otak siswa yang berupa sistem pembelajaran sosial terpenuhi. Siswa tampak memiliki sikap positif terhadap guru, meningkatnya rasa percaya diri karena adanya penghargaan berupa bintang, tumbuhnya motivasi intrinsik untuk melibatkan diri dalam pembelajaran, dan meningkatnya taraf penalaran siswa. Tampak dari durasi siswa dalam mengomentari presentasi temannya.
Selain berdampak pada kemampuan siswa, dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif guru sebagai peneliti semakin menyadari kekurangan dalam hal wawasan sehingga menjadi berkeinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 yang kini sedang ditempuh. Tentu saja dengan harapan bahwa akan semakin bertambahnya ilmu yang dapat ditransferkan kelak kepada siswa maupun rekan-rekan sejawat, terutama di wilayah gugus 03 Kabupaten Bandung Barat karena penulis diberi amanat oleh rekan-rekan guru dalam wilayah itu menjadi ketua MGMP yang sering diharapkan untuk memberikan penyegaran berupa ilmu pengetahuan baik mengenai pedagogik maupun keprofesionalan.
Selain kelebihan yang telah dijelaskan, PTK ini memiliki kelemahan yaitu penggunaan bentuk soal tes yang berupa pilihan ganda. Pilihan ganda merupakan soal yang mudah untuk ditebak oleh siswa. Jadi peneliti sendiri belum dapat memastikan apakah akan terdapat peningkatan hasil belajar siswa jika tes berupa uraian? Oleh karena itu PTK ini harus ditindaklanjuti dengan melakukan penelitian baru yang menggunakan tes berupa uraian serta model pembelajaran yang bukan model pembelajaran kooperatif, bahkan dapat juga penelitian lanjutan nanti menggunakan kelas kontrol sebagai pembanding keberhasilan model yang diujicobakan.
Berdasarkan beberapa hal tersebut, melalui PTK ini penulis sebagai guru membuat kesimpulan bahwa  ternyata  guru benar-benar berperan penting dalam pelaksanaan pembelajaran. Oleh karena itu penulis menyarankan beberapa hal, yaitu: (1) guru harus selalu menanamkan rasa ikhlas dan niat beribadah dalam melaksanakan kewajiban sebagai pendidik, pelatih, maupun pengajar; (2) guru harus selalu berusaha untuk menjadi pengganti orang tua bagi siswa pada saat mereka berada di sekolah, sehingga apa pun yang terjadi dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan yang penuh dengan keharmonisan; (3) guru harus menyusun sebuah rencana pelaksanaan pembelajaran dengan baik dan terencana; (4) guru harus mampu memilih dan memilah model pembelajaran yang efektif dan efisien bagi siswa; (5) guru harus mampu mengkondisikan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, menantang, dan menyenangkan bagi siswa. Oleh karena itu bila diperlukan pemberian hadiah dapat dilakukan; (6) guru harus selalu membandingkan kemampuan awal siswa dengan kemampuan akhir siswa dalam setiap pembelajaran untuk mengukur keberhasilan sebuah pembelajaran; (7) refleksi harus menjadi bagian dari setiap pembelajaran, karena hal ini dapat dijadikan acuan untuk memperbaiki pembelajaran yang telah dilaksanakan sehingga pembelajaran berikutnya akan lebih baik; dan (8) guru harus selalu berusaha menindaklanjuti pembelajaran dengan membuat PTK agar terampil dalam menulis dan memiliki bukti fisik tentang kinerjanya sehingga tidak pernah kekurangan dalam kredit poin ketika akan mengusulkan kenaikan tingkat.
Apabila guru dapat  melaksanakan tugas-tugas tersebut dengan baik, maka Penilaian Kinerja Guru (PKG) yang akan dilaksanakan pada tahun 2013 tidak akan menjadi ‘hantu’ yang sangat menakutkan bagi guru. Guru akan benar-benar siap dinilai oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Oleh karena itu marilah mencoba untuk berubah menjadi guru yang baik dengan tidak menunggu lebih lama lagi. Renungkanlah apa yang selama ini kita lakukan dan berubahlah sekarang jika itu harus dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA


Arif, A. 2012. Model-model Pembelajaran [Online]. Tersedia: http:/blogspot.com/2009/05. [8 Oktober 2012].

Alimurni, S. 2012. Menulis Pantun yang Sesuai dengan Syarat-syarat Pantun. [Online]. Tersedia: http:/ alimurniktm.wordpress.com./2009/04. [9 November 2012].

Ayuna. 2012. Belajar Menulis Pantun.html [Online]. Tersedia: http:/ dariayun.blogspot.com/2009/05. [9 November 2012].

Akip Effendy. 2012. Hakikat Ketrampilan Menulis [Online]. Tersedia: http:/ blogspot.com./2012/03. [10 November 2012].

Fenny. 2012. Ciri dan Cara Menulis Pantun.html [Online]. Tersedia: http:/bissastra.blogspot.com/2009/04. [10 Novemver 2012].

K. Given, Barbara. 2007. Brain Based Teaching. Bandung: Mizan Pustaka.

Kaskus. 2012. Sejarah Pantun dan Jenis-jenisnya.html [Online]. Tersedia: http:/kaskus-forum.blogspot.com/2011/10. [12 November 2012]

Muslihuddin. 2009. Kiat Sukses Melakukan Penelitian Tindakan Kelas & Sekolah. Bandung: Rizqi Press.

Ninggrum, Puspita. 2011. Efektivitas Media Permainan Kartu Domino Pantun dalam Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa pada Pembelajaran Menulis Pantun. Skripsi pada UPI. Bandung: tidak diterbitkan.

Rusman. 2012. Model-model Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Prasindo Persada.

Soetarno. 1967. Sastra Melayu Lama. Surakarta: Widya Duta.









                                                  
                                                  

















































No comments:

Post a Comment